Pengertian Hisab dan Rukyat dalam Penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal dalam Kalender Hijriyah

Teleskop

Di antara tanggal penting dalam penanggalan hijriyah bagi umat Islam adalah tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal. Tanggal 1 Ramadhan adalah waktu dimulainya puasa Ramadhan (puasa hari pertama) dari kewajiban berpuasa sebulan penuh di bulan tersebut. Tanggal 1 Syawal adalah Hari Raya Idul Fitri sekaligus menandai berakhirnya puasa Ramadhan.

Di Indonesia, secara formal tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal ditetapkan oleh pemerintah. Dalam hal ini pemerintah mengakomodasi penentuan awal bulan hijrirah dengan metoda rukyat. Namun masyarakat muslim dibebaskan untuk menggunakan patokan yang berbeda dalam penentuan awal puasa dan idul Fitri. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan metoda dalam penentuan awal bulan hijriyah tersebut yang memungkinkan terjadinya perbedaan awal bulan hijriyah. Metoda lainnya dalam penentuan awal bulan hijriyah tersebut adalah metoda hisab. Apa itu metoda hisab dan rukyat? Berikut penjelasannya.

 

Kalender Hijriyah

Kalender Hijriah atau Kalender Islam merupakan kalender yang menggunakan peredaran bulan sebagai acuan, sedangkan kalender biasa (Kalender Masehi) menggunakan peredaran matahari.

Hitungan hari dan tanggal pada Kalender hijriah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut (waktu Maghrib). Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari (tengah malam) waktu setempat.

Bulan hijriah islam

Kalender hijriah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah). 1 tahun hijriyah terdiri dari 12 bulan hijriyah yaitu (1) Muharram, (2 ) Safar, (3) Rabiul Awal (4) Rabiul Akhir, (5) Jumadil Awal, (6) Jumadil Akhir, (7) Rajab, (8) Sya’ban, (9) Ramadhan, (10) Syawal, (11) Dzulkaidah, dan (12) Dzulhijjah.

Kalender hijriyah menggunakan siklus sinodik bulan, bjumlah hari dalam 1 tahun Hijriyah adalah 354,36708 hari (12 x 29,53059 hari). Sedangkan 1 tahun Masehi adalah 365,25 hari. Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek 10-12 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 atau 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (bulan, bumi dan matahari).

 

Hisab

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

‘Hisab secara harfiah ‘perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Bulan baru

 

Rukyat

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Rukyatul hilal dan metode pengamatan langsung matahari/bulan merupakan salah satu tuntunan sunnah Rasul untuk menentukan bulan baru dan waktu sholat sebelum inovasi sistem penanggalan kalender modern ataupun jam ditemukan.

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

 

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah

Sebagian umat Islam memiliki pendapat bahwa untuk menentukan awal bulan hijriyah harus dengan melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain mempunyai berpendapat bahwa penentuan awal bulan hijriyah cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus mengamati hilal secara langsung. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.

Teleskop bintang

Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

 

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

 

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

 

Imkanur Rukyat MABIMS

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

 

Rukyat Global

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.