Satuan Panjang Tradisional Jengkal, Hasta, dan Depa

Satuan panjang tradisional jengkal hasta depa

Besaran panjang adalah salah satu yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari hari. Pengukuran panjang telah dilakukan manusia sejak zaman prasejarah. Tentu saja pengukuran panjang pada masa itu menggunakan satuan lokal tradisional.

Ada banyak ragam satuan panjang tradisional di berbagai kebudayaan. Di Indonesia dikenal satuan panjang tradisional menggunakan tangan. Satuan panjang tradisional tersebut bahkan masih digunakan untuk pengukuran informal.

Ada tiga satuan panjang tradisional dengan menggunakan tangan yaitu jengkal (kilan), hasta, dan depa. Ketiga satuan ini digunakan untuk pengukuran informal. Artinya satuan ini tidak dapat dikonversi dengan satuan standar untuk panjang misalnya centimeter.

 

Pengertian Jengkal, Hasta, dan Depa

1 jengkal adalah ukuran jarak antara ujung jempol dan ujung kelingking saat jari-jari tangan direnggangkan secara maksimal.

Jarak 1 jengkal
1 hasta adalah ukuran jarak antara ujung jari terjauh (jari tengah) sampai ke ujung siku saat siku ditekuk dan jari-jari diluruskan secara maksimal.

Jarak 1 hasta
1 depa adalah ukuran jarak antara ujung jari kanan terjauh (jari tengah) sampai dengan ujung jari kiri terjauh saat kedua tangan dibentangkan secara maksimal dan jari-jari diluruskan.

Jarak 1 depa

 

Pengukuran Panjang dengan Jengkal, Hasta, dan Depa

Pengukuran panjang dengan satuan informal jengkal, hasta, dan depa dapat digunakan untuk menyatakan panjang atau jarak yang tidak harus eksak. Misalnya untuk membuat layang-layang tradisional, kita tidak harus memotong bambu dengan ukuran eksak tertentu, kita bisa menggunakan satuan jengkal. Demikian juga untuk menentukan jarak antara dua tiang gawang mini saat bermain bola di lapangan yang sempit, kita bisa menggunakan satuan depa.

Satuan panjang tradisional jengkal, hasta dan depa tidak bisa digunakan sebagai satuan panjang formal. Hal ini dikarenakan ukuran tangan setiap orang sangat beragam. Ada orang yang memiliki ukuran tangan yang relatif lebih panjang, dan ada pula orang yang memiliki ukuran tangan relatif lebih pendek. Sebagai contoh satu jengkal anak-anak tidak sama dengan satu jengkal orang dewasa.

 

Meningkatkan Akurasi Pengukuran dengan Jengkal, Hasta dan Depa

Meskipun satuan jengkal, hasta dan depa tidak dapat digunakan untuk pengukuran formal, namun akurasi pengukuran dapat ditingkatkan jika kita ingin melakukan pengukuran berulang. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi pengukuran.
1. Pengukuran berulang harus dilakukan satu orang
2. Peregangan jari dan lengan harus maksimal
3. Pengukuran dilakukan dalam posisi horizontal
4. Bagian tangan yang mengukur menempel pada bidang benda yang diukur.